HIV/AIDS

  1. A.    PENDAHULUAN

Di Indonesia saat ini banyak penyakit HIV/AIDS beredar,dikarenakan zaman yang sudah semakin maju akibat globlisasi dunia.Apalagi remaja masa kini,yang selalu mengikuti tingkah laku orang barat.Seperti halnya penyakit HIV/AIDS yang sudah merajalela di kalangan remaja khususnya,yang dikarenakan akibat daripada pergaulan bebas.Pergaulan bebas inilah yang akan mengakibatkan seseorang dapat terkena HIV/AIDS.

  1. B.     MATERI
    1. 1.      Pengertian HIV/AIDS

Menurut Prawiroharjo (2009),Acquired Immunodeficiency  Syndrome (AIDS) adalah syndrome dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh infeksi human Immunodeficienchy Virus (HIV).Virus ini cenderung menyerang system kekebalan tubuh.[1]

 

  1. 2.      Perbedaan Penderita HIV dan Penderita AIDS

Penderita HIV positif adalah seorang yang tertular virus HIV, Nampak sehat tanpa gejala penyakit apapun, tetapi dapat menularkan virus AIDS kepada orang lain.

Penderita AIDS adalah seseorang yang menunjukkan gejala dari sekumpulan penyakit, setelah sekian waktu terinfeksi HIV. Biasanya timbul antara 5-10 tahun setelah tertular HIV (Maryunani,2009)[2]

  1. 3.      Gejala-gejala infeksi HIV

Terdapat 4 satdium penyakit AIDS, yaitu :

  1. Stadium awal infeksi HIV, gejala-gejalanya :

1)      Demam

2)      Kelelahan

3)      Nyeri sendi

4)      Pembesaran kelenjar getah bening (di leher, ketiak, lipatan paha) gejala-gejala ini menyerupai influenza/monokleosis.

  1. Stadium tanpa gejala

Stadium di mana penderita tampak sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV.

  1. Stadium ARC (AIDS Related Complex) dengan gejala :

1)      Demam > 38 derajat Celsius secara berkala/terus-menerus.

2)      Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan.

3)      Pembesaran kelenjar getah bening.

4)      Diare/mencret yang berkala/terus-menerus dalam waktu yang lama (lebih dari 1 bulan) tanpa sebab yang jelas.

5)      Kelemahan tubuh yang menurunkan aktivitas fisik.

6)      Keringat malam.

  1. Stadium AIDS, gejala-gejalanya :

1)      Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut sarkoma Kaposi (tampak bercak merah kebiruan di kulit)

2)      Kanker kelenjar getah bening.

3)      Infeksi penyakit penyerta, misalnya : peneumonia yang disebabakan oleh pneumocystiscarinii, TBC)

4)      Peradangan otak/selaput otak (Depkes, 2003).[3]

  1. 4.      Penularan HIV/AIDS

Penularan HIV (Human Immundeficiency Virus) bisa terjadi akibat hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV,tercermar oleh darahnya,tranfusi darah yang mengandung HIV atau memakai jarum suntik bekas orang yang terinfeksi HIV.Adanya HIV dalam tubuh akan menyebabkan berkurangnya kekebalan tubuh atau hilang sama sekali sehingga akan mempermudah penyakit-penyakit lain penyerang tubuh yang lemah.Kumpulan dari gejala-gejala penyakit itulah disebut dengan AIDS (Acquired Immunodeficienchy  Syndrome)

Terdapat 3 cara penulatran HIV, yaitu :

  1. Sebagian besar melalui hubungan seksual, baik homo seksual maupun heteroseksual.
  2. Melalui darah, misalnya tansfusi darah yang terinfeksi HIV, atau melalui jarum suntik, alat tindik/tato/akupuntur yang terkontaminasi/tidak steril.
  3. Melalui ibu yang terinfeksi kepada bayinya. Penularan HIV ke bayi bisa terjadi sebelum, sewaktu atau setelah dilahirkan (Rahmawati, 2011).

Virus HIV tidak ditularkan melalui :

  1. Kontak/hubungan sosial sehari-hari, seperti jabat tangan, mencium atau bersentuhan dengan pengidap HIV/AIDS.
  2. Hidup serumah dengan pengidap HIV/AIDS (asalkan tidak mengadakan hubungan seksual).
  3. Penggunaan wc, kamar mandi, kolam renang bersama.
  4. Penggunaan gagang telpon secara umum, alat makan atau minum.
  5. Bersentuhan dengan pakaian dan barang-barang lain milik penderita.
  6. Bersin atau batuk.
  7. Gigitan nyamuk (Rahmawati,2011)[4]
  1. 5.      Cara Pencegahan HIV/AIDS

Hubungan seksual yang aman adalah hubungan seks yang bertanggung jawab yang mencakup :

  1. Mengetahui pasangan seks,
  2. Mempunyai hubungan komunikasi yang terbuka yang memungkinkan pasangan untuk mendiskusikan status kesehatan terakhir,
  3. Membatasi jumlah pasangan seks,
  4. Menghindari kontak seksual dengan penggunaan obat terlarang,
  5. Menggunakan kondom yang tepat (Potter,2005).

[1] Prawiroharjo,Sarwono.2009.Ilmu Kebidanan.Jakarta:PT.Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;932-933

[2] Maryunani,Anik.2009.Pencegahan dan Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayi.Jakarta:TIM;hal 24

[3] Maryunani,Anik.2009.Pencegahan dan Penularan HIV Dari Ibu Ke Bayi.Jakarta:TIM;30-31

[4] Rahmawati, Eni Nur.2011.Ilmu Praktis Kebidanan.Surabaya:Victory Inti Cipta:hal 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s